Made a meal and threw it up on sunday
I've got a lot of things to learn
Said I would and I'll be leaving one day
Before my heart starts to burn
So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away
Times are hard when things have got no meaning
I've found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in
The things we find behind the door
So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah nobody knows the way it's gonna be
If your leaving will you take me with you
I'm tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home
So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah nobody knows the way it's gonna be
The way it's gonna be, yeah
Maybe I can see, yeah
But don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah God only knows the way it's gonna be
Senin, 12 Maret 2012
Train - hey soul sister
Heeey heeeey heeeeey
Your lipstick stays on the front lobe of my left side brains
I knew I wouldn't forget you
And so I went and let you blow my mind
Your sweet moving
The smell of you in every single dream I dream
I knew when we collided you're the one I have decided
Who's one of my kind
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Heeey heeeey heeeey
Just in time, I'm so glad you have a one track mind like me
You gave my life direction
A game show love connection, we can't deny
I'm so obsessed
My heart is bound to beat right out my untrimmed chest
I believe in you, like a virgin, you're Madonna
And I'm always gonna wanna blow your mind
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
The way you can cut a rug
Watching you is the only drug I need
So gangster, I'm so thug
You're the only one I'm dreaming of
You see I can be myself now finally
In fact there's nothing I can't be
I want the world to see you being with me
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Heeey heeeey heeeeey (tonight)
Heeey heeeey heeeeey (tonight)
Your lipstick stays on the front lobe of my left side brains
I knew I wouldn't forget you
And so I went and let you blow my mind
Your sweet moving
The smell of you in every single dream I dream
I knew when we collided you're the one I have decided
Who's one of my kind
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Heeey heeeey heeeey
Just in time, I'm so glad you have a one track mind like me
You gave my life direction
A game show love connection, we can't deny
I'm so obsessed
My heart is bound to beat right out my untrimmed chest
I believe in you, like a virgin, you're Madonna
And I'm always gonna wanna blow your mind
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
The way you can cut a rug
Watching you is the only drug I need
So gangster, I'm so thug
You're the only one I'm dreaming of
You see I can be myself now finally
In fact there's nothing I can't be
I want the world to see you being with me
Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Heeey heeeey heeeeey (tonight)
Heeey heeeey heeeeey (tonight)
hells angels - forever angels
[1. Verse:]
You were born on judgement day
But you don't care and go your own way
Your living your life and you made your own laws
Fellowship forever, your freeing your souls
[Bridge:]
Riding with the brothers
Through the wind and the rain
You're proud of your color
and can feel no pain
[Chorus:]
Forever angel
Keep on riding
And fight for your rights
Forever angel
Roaring thunder
Through endless nights
[2. Verse:]
Sometimes it seems that you're dancing with the devil
And you recognize that the price for freedom is high
The brotherhood in your life is your highest call
Your the chosen ones, all for one and for all
You were born on judgement day
But you don't care and go your own way
Your living your life and you made your own laws
Fellowship forever, your freeing your souls
[Bridge:]
Riding with the brothers
Through the wind and the rain
You're proud of your color
and can feel no pain
[Chorus:]
Forever angel
Keep on riding
And fight for your rights
Forever angel
Roaring thunder
Through endless nights
[2. Verse:]
Sometimes it seems that you're dancing with the devil
And you recognize that the price for freedom is high
The brotherhood in your life is your highest call
Your the chosen ones, all for one and for all
Kamis, 09 Februari 2012
Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Liburan hampir tiba. Tiga orang petugas naik ke atas pick-up dan berkeliling kota, mencari orang-orang gila.
Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.
Hingga salah satu dari mereka keluar dengan gagasan mencari tempat pelacuran. Mereka belum pernah melakukan itu, dan membayangkan akan memiliki cerita hebat untuk teman-teman mereka di sekolah, tak satu pun menolak gagasan ini. Menyewa empat sepeda, dan bekeliling kota, mereka bertanya kepada anak-anak setempat yang nongkrong di perempatan jalan, dimana tempat pelacuran. Anak-anak sekolah ini tak tahu, pelacur terakhir di kota itu telah diarak dan babak-belur satu bulan sebelumnya oleh gerombolan orang-orang saleh.
“Kalau masih ada satu yang tersisa,” kata anak-anak setempat yang bergerombol tersebut, “Itu untuk kami. Maaf.”
Dalam keadaan putus asa, dengan berahi yang meledak-ledak, delapan anak sekolah itu menemukan seorang perempuan gila di satu tepi jembatan. Perempuan itu berumur sekitar tiga puluhan. Tak terlalu buruk untuk mereka. Didorong insting alami, mereka memandikan si orang gila dan membawanya ke losmen. Demikianlah hal itu bermula.
Tapi tak ada yang tahu bagaimana hal itu menjalar ke beberapa pelancong lain. Selama beberapa waktu, polisi memperoleh laporan tentang pelancong-pelancong yang menangkap perempuan-perempuan gila dan membawanya ke losmen. Awalnya mereka tak terlalu menggubris hal ini, sebab para pemuda setempat kadang-kadang melakukan kesintingan serupa itu.
Hal ini baru menjadi skandal ketika seorang pengkhotbah, di hari Lebaran, mengeluhkan hal tersebut. Bahwa para pelancong dari mana-mana, datang ke kota itu, untuk meniduri orang-orang gila. Pengkhotbah secara berapi-api akan membawa umatnya untuk membakar losmen-losmen, kecuali polisi segera membersihkan kota dari orang-orang gila. Tentu saja mereka tak mungkin melarang pelancong datang, sebab bahkan penghidupan pengkhotbah sendiri tersangkut-paut dengan hal ini: ia membuat dendeng ikan yang sebagian besar dibeli oleh pelancong untuk oleh-oleh.
Pembersihan orang-orang gila pun dilakukan. Tak hanya perempuan-perempuan gila, tapi juga lelaki-lelaki gila. Semakin banyak orang gila yang ditangkap, semakin tampak serius mereka bekerja. Pertama-tama, polisi yang melakukan ini. Belakangan, petugas-petugas inilah yang melakukannya.
Kota itu kecil saja, di tepi pantai selatan Jawa. Mereka tak memiliki rumah sakit jiwa, bahkan rumah perawatan sederhana sekalipun tak ada. Hanya ada pusat kesehatan masyarakat dan sebuah panti asuhan. Jadi beginilah yang akan dilakukan oleh ketiga petugas di atas pick-up itu. Mereka akan berkeliling kota. Jika mereka menemukan ada orang gila di pinggir jalan, mereka menangkapnya, dan melemparkannya ke atas pick-up.
Menjelang sore, barangkali mereka telah menangkap dua atau tiga orang gila, pick-up berjalan keluar kota. Ke arah utara, mereka melintasi hutan jati milik pemerintah, yang memisahkan kota mereka dengan kota terdekat. Di tengah hutan itulah, mereka berhenti. Dan di sana, orang-orang gila itu dilepas.
Pengemudi pick-up itu Marwan, dan ia yang akan selalu mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang gila tersebut: “Sampai jumpa di akhir musim liburan!”
Marwan menenteng tali pramuka. Mereka tak pernah harus mengikat orang-orang gila tersebut, tapi tindakan berjaga-jaga selalu dilakukan. Kedua temannya, Darto dan Kartomo mengikuti. Darto menenteng tas punggung. Seperti di waktu-waktu sebelumnya, jika mereka tak menemukan orang-orang gila itu di tepi jalan, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Sejauh yang mereka tahu, orang-orang gila ini tak pernah pergi jauh.
Mereka memeriksa sungai kecil di bawah bukit. Entah kenapa, mereka selalu menemukan orang gila pertama di sana. Seperti binatang, orang gila rupanya tak ingin jauh dari air. Benarlah, mereka menemukan salah satu orang gila di sana. Seorang lelaki. Meringkuk di sebuah batu besar, dengan kaki terjuntai ke arus air.
Marwan menghampirinya, berdiri di tepi batu, dan menendang si orang gila. Ia menoleh ke arah teman-temannya dan berkata:
“Mati.”
Mereka kehilangan seorang gila. Kartomo merogoh saku, mengeluarkan telepon genggam. Ia bersiap memotret mayat itu. Marwan dan Darto berjongkok di samping mayat, sedikit bergaya. Dengan senyum mengembang. Kartomo memijit tombol telepon genggam, terdengar bunyi tanda ia selesai memotret.
Mayat itu belum bau, tapi tetap saja mereka meludah. Setelah Kartomo memotretnya beberapa kali lagi, mereka meneruskan perjalanan, mengikuti arus air. Meninggalkan mayat tersebut tanpa menyentuhnya lagi. Itu urusan polisi, kata mereka.
Orang gila kedua terdengar suaranya, dari arah puncak bukit. Tak jelas apa yang dilakukannya: menyanyi atau menggeram. Seorang perempuan. Darto yang pertama kali mendengar. Ia mendongak dan berbisik, “Dengar!” Setelah ketiganya sama mendengar, mereka bergegas menaiki lereng. Berpegangan pada pokok-pokok jati muda. Di atas bukit, ada gubuk tempat polisi hutan biasanya mengaso. Di sanalah perempuan gila itu berada. Menggeram-geram.
Tainya bertumpukan dimana-mana, di sekitar gubuk. Bau busuknya dengan segera menyergap hidung Marwan, Darto dan Kartomo.
“Anjing,” maki Darto. “Hai, Sinting, cepat pergi dari situ.”
Dengan susah-payah, mereka harus membawanya menuruni bukit dan membenamkannya ke sungai. Darto mengeluarkan gaun bersih dari tas pungguhnya, dan mengganti pakaian perempuan itu. Setelah memberinya lontong dan selembar roti tawar, perempuan gila itu akhirnya berjalan mengikuti mereka. Dan dalam perjalanan kembali naik ke bukit itulah, di setapak yang berbeda dengan sebelumnya, mereka menemukan orang gila ketiga.
Seorang lelaki, dengan badan berotot, dan tanpa pakaian. Yang mengagumkan adalah kemaluannya, terombang-ambing seirama langkah kakinya. Gelap, besar, di balik rimbun bulu kemaluan yang lengket di sana-sini. Ketiga petugas bahkan takjub dengan pemandangan tersebut. Bahkan meskipun mereka sudah mengetahui hal ini sebelumnya, sebab mereka sudah bertemu beberapa kali, rasa cemburu akan ukuran kemaluan itu tetap saja menjalar di kepala mereka.
Lelaki gila itu cengar-cengir begitu melihat ketiga petugas. Ia sudah mengenali mereka. Dengan lontong pula, ia tak perlu dibujuk untuk berjalan mengikuti ketiganya.
Mereka membawanya ke pick-up, menaikkannya. Kartomo akan bertugas menjaga kedua orang gila itu, sementara Darto dan Marwan akan mencari dua orang gila lainnya. Jika mereka beruntung, keduanya akan ditemukan sebelum senja datang. Marwan dan Darto cukup mengenal kedua perempuan sinting yang belum mereka tangkap. Keduanya sering berdua kemana-mana, dan memiliki kebiasaan berjalan lebih jauh dari orang-orang gila lainnya.
“Aku benci melihat ada orang gila mati,” gumam Darto sambil berjalan.
“Hmm,” kata Marwan mengikuti. “Cepat atau lambat akan ada orang gila baru di kota. Percayalah. Tuhan maha adil.”
Darto tertawa kecil. Ia tak mengatakan apa pun lagi, berjalan dengan roman lebih riang. Tiba-tiba ia mengalunkan sebaris lagu. Mereka bahkan tak ingat siapa yang menyanyikannya, dan apa judulnya, tapi Marwan buru-buru ikut bernyanyi. Mereka tampak senang, sebab pekerjaan mestinya membuat orang menjadi riang.
Dari arah pantai, berjalan seorang lelaki perlente. Ia tampak menengok ke kiri ke kanan, lalu membaca papan nama bar. Ia menoleh ke arah Marwan. Ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia menghampirinya.
“Bung Marwan?”
“Hm.”
Marwan menunjuk motor Honda 700 merah yang terparkir tak jauh darinya. Si lelaki perlente mengangguk dan mengikuti Marwan ke motor. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Marwan naik dan si lelaki duduk di belakangnya. Pergi meninggalkan bar.
Mereka berkeliling melalui lorong-lorong kecil. Melintasi toko buku loak Big Mushroom, melalui belakang dapur Hotel Rosebud, melintasi jalan menurun dan berbelok di depan sebuah butik kecil, entah bagaimana mereka melewati kembali Big Mushroom di sisi yang lain, deretan rumah penduduk, londri kiloan, sepetak kebun kelapa kecil, lalu masuk ke sebuah gang sempit yang di kiri-kanan berdiri orang-orang. Para penjaga. Orang-orang ini menghentikan Marwan. Memeriksa si lelaki perlente, dan membiarkan mereka lewat.
Di sanalah mereka kemudian berada: di sebuah gedung tua dengan tulisan: No Camera, No Cellphone, No Kids. Mereka masuk melalui pintu dengan dua penjaga, yang kembali memeriksa si perlente. Di dalam gedung, mereka menemukan diri berada di tengah lapangan bulutangkis yang telah lama dirombak menjadi lapangan futsal. Bangku-bangku penonton penuh orang, suara mereka menciptakan dengung monoton. Marwan menuntun si lelaki perlente melewati orang-orang, dan menemukan satu kursi. Si perlente duduk dan mengucapkan terima kasih.
“Nanti temui aku di pintu,” kata Marwan sebelum pergi.
Marwan berdiri dan bersandar di pintu, menunggu pertunjukan. Di tengah arena, keadaan gelap gulita. Ada seseorang bicara penuh semangat di pengeras suara. Kemudian diselingi dengan sebuah lagu. Tak berapa lama si pembawa acara bicara kembali.
Sunyi melanda para penonton. Lampu remang kemerahan menyala di tengah arena. Di sana tampak tiga tempat tidur, dengan tiga orang perempuan telanjang duduk gelisah di masing-masing tempat tidur. Yang menghebohkan penonton, tak lain orang keempat: seorang lelaki penuh otot, dengan kulit gelap, juga telanjang. Kemaluannya membuat mereka terpukau. Lelaki itu tersenyum riang melihat tiga perempuan telanjang. Kemaluannya perlahan-lahan terangkat, dan para penonton semakin bertanya-tanya berapa ukurannya.
“Sayang sekali, satu di antara mereka sudah mati. Polisi bahkan malas mengangkatnya dari sungai,” kata Marwan, kepada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia mengambil rokok dari saku bajunya, menawarkan, dan menyulutnya.
Selama musim liburan, orang-orang gila tak lagi mereka butuhkan. Mereka dibuang sebab bisnis berjalan dengan baik. Sebab itu membuat orang-orang saleh merasa senang.
“Ada orang gila baru,” seru Darto.
Dari belakang kemudi, Marwan mendongak, dan bergumam. “Sayang sekali itu bukan bekas pacarku.”
Dan mereka tertawa sambil menggebrak-gebrak dashboard.
Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.
Hingga salah satu dari mereka keluar dengan gagasan mencari tempat pelacuran. Mereka belum pernah melakukan itu, dan membayangkan akan memiliki cerita hebat untuk teman-teman mereka di sekolah, tak satu pun menolak gagasan ini. Menyewa empat sepeda, dan bekeliling kota, mereka bertanya kepada anak-anak setempat yang nongkrong di perempatan jalan, dimana tempat pelacuran. Anak-anak sekolah ini tak tahu, pelacur terakhir di kota itu telah diarak dan babak-belur satu bulan sebelumnya oleh gerombolan orang-orang saleh.
“Kalau masih ada satu yang tersisa,” kata anak-anak setempat yang bergerombol tersebut, “Itu untuk kami. Maaf.”
Dalam keadaan putus asa, dengan berahi yang meledak-ledak, delapan anak sekolah itu menemukan seorang perempuan gila di satu tepi jembatan. Perempuan itu berumur sekitar tiga puluhan. Tak terlalu buruk untuk mereka. Didorong insting alami, mereka memandikan si orang gila dan membawanya ke losmen. Demikianlah hal itu bermula.
Tapi tak ada yang tahu bagaimana hal itu menjalar ke beberapa pelancong lain. Selama beberapa waktu, polisi memperoleh laporan tentang pelancong-pelancong yang menangkap perempuan-perempuan gila dan membawanya ke losmen. Awalnya mereka tak terlalu menggubris hal ini, sebab para pemuda setempat kadang-kadang melakukan kesintingan serupa itu.
Hal ini baru menjadi skandal ketika seorang pengkhotbah, di hari Lebaran, mengeluhkan hal tersebut. Bahwa para pelancong dari mana-mana, datang ke kota itu, untuk meniduri orang-orang gila. Pengkhotbah secara berapi-api akan membawa umatnya untuk membakar losmen-losmen, kecuali polisi segera membersihkan kota dari orang-orang gila. Tentu saja mereka tak mungkin melarang pelancong datang, sebab bahkan penghidupan pengkhotbah sendiri tersangkut-paut dengan hal ini: ia membuat dendeng ikan yang sebagian besar dibeli oleh pelancong untuk oleh-oleh.
Pembersihan orang-orang gila pun dilakukan. Tak hanya perempuan-perempuan gila, tapi juga lelaki-lelaki gila. Semakin banyak orang gila yang ditangkap, semakin tampak serius mereka bekerja. Pertama-tama, polisi yang melakukan ini. Belakangan, petugas-petugas inilah yang melakukannya.
Kota itu kecil saja, di tepi pantai selatan Jawa. Mereka tak memiliki rumah sakit jiwa, bahkan rumah perawatan sederhana sekalipun tak ada. Hanya ada pusat kesehatan masyarakat dan sebuah panti asuhan. Jadi beginilah yang akan dilakukan oleh ketiga petugas di atas pick-up itu. Mereka akan berkeliling kota. Jika mereka menemukan ada orang gila di pinggir jalan, mereka menangkapnya, dan melemparkannya ke atas pick-up.
Menjelang sore, barangkali mereka telah menangkap dua atau tiga orang gila, pick-up berjalan keluar kota. Ke arah utara, mereka melintasi hutan jati milik pemerintah, yang memisahkan kota mereka dengan kota terdekat. Di tengah hutan itulah, mereka berhenti. Dan di sana, orang-orang gila itu dilepas.
Pengemudi pick-up itu Marwan, dan ia yang akan selalu mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang gila tersebut: “Sampai jumpa di akhir musim liburan!”
***
Ketika musim liburan berakhir, Marwan dan kedua temannya naik pick-up kembali dan pergi ke pinggiran hutan jati tersebut. Mereka tak menemukan orang-orang gila itu di sana, tentu saja. Terakhir ada tiga orang perempuan dan dua orang lelaki gila. Setelah memeriksa jalanan yang membelah hutan, mereka turun dari pick-up dan meninggalkan kendaraan itu di pinggir jalan.Marwan menenteng tali pramuka. Mereka tak pernah harus mengikat orang-orang gila tersebut, tapi tindakan berjaga-jaga selalu dilakukan. Kedua temannya, Darto dan Kartomo mengikuti. Darto menenteng tas punggung. Seperti di waktu-waktu sebelumnya, jika mereka tak menemukan orang-orang gila itu di tepi jalan, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Sejauh yang mereka tahu, orang-orang gila ini tak pernah pergi jauh.
Mereka memeriksa sungai kecil di bawah bukit. Entah kenapa, mereka selalu menemukan orang gila pertama di sana. Seperti binatang, orang gila rupanya tak ingin jauh dari air. Benarlah, mereka menemukan salah satu orang gila di sana. Seorang lelaki. Meringkuk di sebuah batu besar, dengan kaki terjuntai ke arus air.
Marwan menghampirinya, berdiri di tepi batu, dan menendang si orang gila. Ia menoleh ke arah teman-temannya dan berkata:
“Mati.”
Mereka kehilangan seorang gila. Kartomo merogoh saku, mengeluarkan telepon genggam. Ia bersiap memotret mayat itu. Marwan dan Darto berjongkok di samping mayat, sedikit bergaya. Dengan senyum mengembang. Kartomo memijit tombol telepon genggam, terdengar bunyi tanda ia selesai memotret.
Mayat itu belum bau, tapi tetap saja mereka meludah. Setelah Kartomo memotretnya beberapa kali lagi, mereka meneruskan perjalanan, mengikuti arus air. Meninggalkan mayat tersebut tanpa menyentuhnya lagi. Itu urusan polisi, kata mereka.
Orang gila kedua terdengar suaranya, dari arah puncak bukit. Tak jelas apa yang dilakukannya: menyanyi atau menggeram. Seorang perempuan. Darto yang pertama kali mendengar. Ia mendongak dan berbisik, “Dengar!” Setelah ketiganya sama mendengar, mereka bergegas menaiki lereng. Berpegangan pada pokok-pokok jati muda. Di atas bukit, ada gubuk tempat polisi hutan biasanya mengaso. Di sanalah perempuan gila itu berada. Menggeram-geram.
Tainya bertumpukan dimana-mana, di sekitar gubuk. Bau busuknya dengan segera menyergap hidung Marwan, Darto dan Kartomo.
“Anjing,” maki Darto. “Hai, Sinting, cepat pergi dari situ.”
Dengan susah-payah, mereka harus membawanya menuruni bukit dan membenamkannya ke sungai. Darto mengeluarkan gaun bersih dari tas pungguhnya, dan mengganti pakaian perempuan itu. Setelah memberinya lontong dan selembar roti tawar, perempuan gila itu akhirnya berjalan mengikuti mereka. Dan dalam perjalanan kembali naik ke bukit itulah, di setapak yang berbeda dengan sebelumnya, mereka menemukan orang gila ketiga.
Seorang lelaki, dengan badan berotot, dan tanpa pakaian. Yang mengagumkan adalah kemaluannya, terombang-ambing seirama langkah kakinya. Gelap, besar, di balik rimbun bulu kemaluan yang lengket di sana-sini. Ketiga petugas bahkan takjub dengan pemandangan tersebut. Bahkan meskipun mereka sudah mengetahui hal ini sebelumnya, sebab mereka sudah bertemu beberapa kali, rasa cemburu akan ukuran kemaluan itu tetap saja menjalar di kepala mereka.
Lelaki gila itu cengar-cengir begitu melihat ketiga petugas. Ia sudah mengenali mereka. Dengan lontong pula, ia tak perlu dibujuk untuk berjalan mengikuti ketiganya.
Mereka membawanya ke pick-up, menaikkannya. Kartomo akan bertugas menjaga kedua orang gila itu, sementara Darto dan Marwan akan mencari dua orang gila lainnya. Jika mereka beruntung, keduanya akan ditemukan sebelum senja datang. Marwan dan Darto cukup mengenal kedua perempuan sinting yang belum mereka tangkap. Keduanya sering berdua kemana-mana, dan memiliki kebiasaan berjalan lebih jauh dari orang-orang gila lainnya.
“Aku benci melihat ada orang gila mati,” gumam Darto sambil berjalan.
“Hmm,” kata Marwan mengikuti. “Cepat atau lambat akan ada orang gila baru di kota. Percayalah. Tuhan maha adil.”
Darto tertawa kecil. Ia tak mengatakan apa pun lagi, berjalan dengan roman lebih riang. Tiba-tiba ia mengalunkan sebaris lagu. Mereka bahkan tak ingat siapa yang menyanyikannya, dan apa judulnya, tapi Marwan buru-buru ikut bernyanyi. Mereka tampak senang, sebab pekerjaan mestinya membuat orang menjadi riang.
***
Musim liburan baru akan datang dua bulan lagi. Marwan berdiri di muka pintu bar, dengan papan besar bertuliskan “Anak di bawah 17 tahun dan berseragam dilarang masuk”. Sepasang pelancong Jepang berdiri di trotoar, di bawah lampu penerang jalan, tampaknya memeriksa satu halaman Lonely Planet. Dua orang gadis Finlandia duduk di kursi teras bar, dengan bir di meja, dan salah satunya asyik membaca Michael Crichton, sementara temannya mendengarkan musik dari iPod. Satu keluarga pelancong lokal, dari logatnya mereka datang dari Makassar, bersepeda lewat di depannya. Musim liburan masih lama, tapi satu-dua pelancong tetap bermunculan. Itu membuat Marwan boleh tersenyum senang. Demikian pula orang-orang di kota itu, tentu saja.Dari arah pantai, berjalan seorang lelaki perlente. Ia tampak menengok ke kiri ke kanan, lalu membaca papan nama bar. Ia menoleh ke arah Marwan. Ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia menghampirinya.
“Bung Marwan?”
“Hm.”
Marwan menunjuk motor Honda 700 merah yang terparkir tak jauh darinya. Si lelaki perlente mengangguk dan mengikuti Marwan ke motor. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Marwan naik dan si lelaki duduk di belakangnya. Pergi meninggalkan bar.
Mereka berkeliling melalui lorong-lorong kecil. Melintasi toko buku loak Big Mushroom, melalui belakang dapur Hotel Rosebud, melintasi jalan menurun dan berbelok di depan sebuah butik kecil, entah bagaimana mereka melewati kembali Big Mushroom di sisi yang lain, deretan rumah penduduk, londri kiloan, sepetak kebun kelapa kecil, lalu masuk ke sebuah gang sempit yang di kiri-kanan berdiri orang-orang. Para penjaga. Orang-orang ini menghentikan Marwan. Memeriksa si lelaki perlente, dan membiarkan mereka lewat.
Di sanalah mereka kemudian berada: di sebuah gedung tua dengan tulisan: No Camera, No Cellphone, No Kids. Mereka masuk melalui pintu dengan dua penjaga, yang kembali memeriksa si perlente. Di dalam gedung, mereka menemukan diri berada di tengah lapangan bulutangkis yang telah lama dirombak menjadi lapangan futsal. Bangku-bangku penonton penuh orang, suara mereka menciptakan dengung monoton. Marwan menuntun si lelaki perlente melewati orang-orang, dan menemukan satu kursi. Si perlente duduk dan mengucapkan terima kasih.
“Nanti temui aku di pintu,” kata Marwan sebelum pergi.
Marwan berdiri dan bersandar di pintu, menunggu pertunjukan. Di tengah arena, keadaan gelap gulita. Ada seseorang bicara penuh semangat di pengeras suara. Kemudian diselingi dengan sebuah lagu. Tak berapa lama si pembawa acara bicara kembali.
Sunyi melanda para penonton. Lampu remang kemerahan menyala di tengah arena. Di sana tampak tiga tempat tidur, dengan tiga orang perempuan telanjang duduk gelisah di masing-masing tempat tidur. Yang menghebohkan penonton, tak lain orang keempat: seorang lelaki penuh otot, dengan kulit gelap, juga telanjang. Kemaluannya membuat mereka terpukau. Lelaki itu tersenyum riang melihat tiga perempuan telanjang. Kemaluannya perlahan-lahan terangkat, dan para penonton semakin bertanya-tanya berapa ukurannya.
“Sayang sekali, satu di antara mereka sudah mati. Polisi bahkan malas mengangkatnya dari sungai,” kata Marwan, kepada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia mengambil rokok dari saku bajunya, menawarkan, dan menyulutnya.
***
Ketika musim liburan tiba, Marwan dan kedua temannya naik kembali ke atas pick-up. Orang-orang gila itu berkeliaran di jalan-jalan kota, dan mereka harus membuangnya ke tengah hutan jati. Kadang-kadang ada penduduk yang mengeluh, “Kenapa mereka selalu kembali ke sini? Tak bisakah kita menembak mati saja mereka?”Selama musim liburan, orang-orang gila tak lagi mereka butuhkan. Mereka dibuang sebab bisnis berjalan dengan baik. Sebab itu membuat orang-orang saleh merasa senang.
“Ada orang gila baru,” seru Darto.
Dari belakang kemudi, Marwan mendongak, dan bergumam. “Sayang sekali itu bukan bekas pacarku.”
Dan mereka tertawa sambil menggebrak-gebrak dashboard.
Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah
Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Petikan itu terdapat dalam esai “Deadlock pada Puisi Emosi-Semata”, yang pada dasarnya mencoba mengkritik kecenderungan generasi saya sendiri yang terlampau menekankan diri pada emosi, lupa bahwa itu hanya pendorong berpuisi. Asrul menunjukkan bahwa Angkatan 45 pada dasarnya mengulang kesalahan Pujangga Baru. Angkatan 45 terlalu sibuk dengan kebebasan, Pujangga Baru tersuntuk melulu dalam urusan keindahan.
Apa pula yang ia maksud dengan puisi gigantis itu? Bisakah kita menganggapnya sebagai kecenderungan puitik Asrul? Soal ini kita bisa periksa dalam kumpulan puisi Asrul satu-satunya yang pernah diterbitkan, Mantera (1975).
Mari kita ke Utara//Saudara, di sana bukan Utara.//Ah, kalau begitu anakku telah dibawa ke Selatan.
Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu
“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.
Tapi paling tidak ia tak akan seperti sang ayah dalam novel tersebut yang, “Kasihan [..] waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak seorang pun di antara kita datang menengok.” Tidak. Kerabat dan sahabatnya berjubel. Dan ketika tubuhnya kembali ke rumahkata (demikian Joko Pinurbo memberi nama dalam puisi yang ditulisnya sesaat setelah Pramoedya tutup usia), di tanah permakaman Karet, seluruh daya hidup yang ditinggal dalam anak-anak rohaninya akan tetap abadi. Apa yang tertulis, tetap tertulis, demikian bunyi satu ayat Alkitab. Kita tahu itu selalu benar, sebagaimana telah terjadi atas kebanyakan karyanya. Karya-karya itu, kita tahu, sekali waktu pernah dilahirkan, kemudian dibunuh dengan berbagai dalih, namun kita juga tahu, mereka senantiasa terus hidup.
Hidupnya memang bukan pasarmalam. Majalah Balairung Universitas Gadjah Mada barangkali lebih tepat membayangkan hidupnya: “Jika kuas lembut sejarah boleh mengoleskan merah, biru, putih, kuning, maka perjalanan hidup Pramoedya Ananta Toer adalah pekat sempurnanya jelaga.” Kelam. Namun itulah. Seperti kelamnya jelaga lahir dari api yang menari, kelam hidupnya juga lahir dari daya hidupnya yang berkobar.
Kabar itu akhirnya diterima: Pramoedya Ananta Toer meninggal pukul 9 pagi, Minggu, 30 April 2006. Suara Nyai Ontosoroh tiba-tiba terasa seperti terngiang di penghujung novel Bumi Manusia, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Dalam hidupnya, semua orang akan mengenang, Pramoedya tak hanya melawan segala prinsip yang merendahkan kemanusiaan, namun juga berjibaku. Dengan ucapan-ucapan, dengan sikap, dan terutama dengan kata-katanya. Kita menemukan sikap jijiknya terhadap kerakusan kolonialisme dalam Tetralogi Buru, rasa sebalnya terhadap sikap patriarkal yang merendahkan perempuan dalam Gadis Pantai atau Midah Si Manis Bergigi Emas, juga kemuakan terhadap kebebalan manusia dalam Perburuan maupun kumpulan cerita pendek Revolusi. Semua itu mengkristal menjadi sejenis sikap politik.
Entah dari mana ia memperoleh sikap serupa itu, yang bagi sebagian orang barangkali bisa ditafsirkan sebagai kekeraskepalaannya. Mungkin itu telah ada sejak kelahirannya, di Blora pada 6 Februari 1925. Dirinya. Sesuatu yang akan diingat orang ketika mendengar namanya. Barangkali pengaruh masa kecilnya, di mana ia lahir dari keluarga bertradisi nasionalis dan aktivis politik. Tradisi itu tetap dipertahankannya, paling tidak untuk dirinya sendiri. Dalam hidupnya, sastra dan politik selalu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Meskipun untuk itu, tiga tahun dalam penjara Belanda, satu tahun dalam penjara Orde Lama dan empat belas tahun tahanan Orde Baru, mesti dicicipinya. Daya tahan hidupnya pula yang membuatnya bertahan. Meski kadang masih sering terlihat rasa marah terhadap ketidakadilan yang berlaku terhadap dirinya, namun kerap kali ia menyikapinya dengan rasa geli terhadap peristiwa yang baginya, hanya memperlihatkan kebodohan manusia belaka.
Ketika ditahan di penjara Belanda di masa revolusi, Pramoedya pernah mencoba untuk menyerah dengan melakukan patiraga. Katanya, “Kawula datang kepada sang Gusti; inilah diriku, kukembalikan semuanya kepadaMu; ambillah semua, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tidak berguna bagi kehidupan.” Ia malah menghasilkan novel Perburuan dan Keluarga Gerilya.
Tapi hari Minggu ini, ketika Jakarta diliputi mendung menjelang hujan deras, Sang Gusti memanggil Pram, demikian ia diakrabi, untuk pulang. Tentu bukan karena ia tak lagi berguna bagi kehidupan. Segala sesuatu mestinya senantiasa berguna. Yang hidup maupun yang mati. Mengiringi kepergiannya, barangkali kita bisa mengutip satu pesan pembuka di novel Bumi Manusia:
“Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Dan kita, tentu tak akan lupa untuk meletakkan patok tersebut. Selamat jalan, Maestro.
Tapi paling tidak ia tak akan seperti sang ayah dalam novel tersebut yang, “Kasihan [..] waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak seorang pun di antara kita datang menengok.” Tidak. Kerabat dan sahabatnya berjubel. Dan ketika tubuhnya kembali ke rumahkata (demikian Joko Pinurbo memberi nama dalam puisi yang ditulisnya sesaat setelah Pramoedya tutup usia), di tanah permakaman Karet, seluruh daya hidup yang ditinggal dalam anak-anak rohaninya akan tetap abadi. Apa yang tertulis, tetap tertulis, demikian bunyi satu ayat Alkitab. Kita tahu itu selalu benar, sebagaimana telah terjadi atas kebanyakan karyanya. Karya-karya itu, kita tahu, sekali waktu pernah dilahirkan, kemudian dibunuh dengan berbagai dalih, namun kita juga tahu, mereka senantiasa terus hidup.
Hidupnya memang bukan pasarmalam. Majalah Balairung Universitas Gadjah Mada barangkali lebih tepat membayangkan hidupnya: “Jika kuas lembut sejarah boleh mengoleskan merah, biru, putih, kuning, maka perjalanan hidup Pramoedya Ananta Toer adalah pekat sempurnanya jelaga.” Kelam. Namun itulah. Seperti kelamnya jelaga lahir dari api yang menari, kelam hidupnya juga lahir dari daya hidupnya yang berkobar.
Kabar itu akhirnya diterima: Pramoedya Ananta Toer meninggal pukul 9 pagi, Minggu, 30 April 2006. Suara Nyai Ontosoroh tiba-tiba terasa seperti terngiang di penghujung novel Bumi Manusia, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Dalam hidupnya, semua orang akan mengenang, Pramoedya tak hanya melawan segala prinsip yang merendahkan kemanusiaan, namun juga berjibaku. Dengan ucapan-ucapan, dengan sikap, dan terutama dengan kata-katanya. Kita menemukan sikap jijiknya terhadap kerakusan kolonialisme dalam Tetralogi Buru, rasa sebalnya terhadap sikap patriarkal yang merendahkan perempuan dalam Gadis Pantai atau Midah Si Manis Bergigi Emas, juga kemuakan terhadap kebebalan manusia dalam Perburuan maupun kumpulan cerita pendek Revolusi. Semua itu mengkristal menjadi sejenis sikap politik.
Entah dari mana ia memperoleh sikap serupa itu, yang bagi sebagian orang barangkali bisa ditafsirkan sebagai kekeraskepalaannya. Mungkin itu telah ada sejak kelahirannya, di Blora pada 6 Februari 1925. Dirinya. Sesuatu yang akan diingat orang ketika mendengar namanya. Barangkali pengaruh masa kecilnya, di mana ia lahir dari keluarga bertradisi nasionalis dan aktivis politik. Tradisi itu tetap dipertahankannya, paling tidak untuk dirinya sendiri. Dalam hidupnya, sastra dan politik selalu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Meskipun untuk itu, tiga tahun dalam penjara Belanda, satu tahun dalam penjara Orde Lama dan empat belas tahun tahanan Orde Baru, mesti dicicipinya. Daya tahan hidupnya pula yang membuatnya bertahan. Meski kadang masih sering terlihat rasa marah terhadap ketidakadilan yang berlaku terhadap dirinya, namun kerap kali ia menyikapinya dengan rasa geli terhadap peristiwa yang baginya, hanya memperlihatkan kebodohan manusia belaka.
Ketika ditahan di penjara Belanda di masa revolusi, Pramoedya pernah mencoba untuk menyerah dengan melakukan patiraga. Katanya, “Kawula datang kepada sang Gusti; inilah diriku, kukembalikan semuanya kepadaMu; ambillah semua, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tidak berguna bagi kehidupan.” Ia malah menghasilkan novel Perburuan dan Keluarga Gerilya.
Tapi hari Minggu ini, ketika Jakarta diliputi mendung menjelang hujan deras, Sang Gusti memanggil Pram, demikian ia diakrabi, untuk pulang. Tentu bukan karena ia tak lagi berguna bagi kehidupan. Segala sesuatu mestinya senantiasa berguna. Yang hidup maupun yang mati. Mengiringi kepergiannya, barangkali kita bisa mengutip satu pesan pembuka di novel Bumi Manusia:
“Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Dan kita, tentu tak akan lupa untuk meletakkan patok tersebut. Selamat jalan, Maestro.
Selasa, 07 Februari 2012
alicia keys - if i aint got you
some people live for the fortune
some people live just for the fame
some people live for the power, yeah
some people live just to play the game
some people think that the physical things
define what's within
and i've been there before
but that life's a bore
so full of the superficial
[chorus:]
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, yeah
some people search for a fountain
that promises forever young
some people need three dozen roses
and that's the only way to prove you love them
hand me the world on a silver platter
and what good would it be
with no one to share
with no one who truly cares for me
[chorus:]
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, you, you
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, yeah
[outro:]
if i ain't got you with me baby
so nothing in this whole wide world don't mean a thing
if i ain't got you with me baby
some people live just for the fame
some people live for the power, yeah
some people live just to play the game
some people think that the physical things
define what's within
and i've been there before
but that life's a bore
so full of the superficial
[chorus:]
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, yeah
some people search for a fountain
that promises forever young
some people need three dozen roses
and that's the only way to prove you love them
hand me the world on a silver platter
and what good would it be
with no one to share
with no one who truly cares for me
[chorus:]
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, you, you
some people want it all
but i don't want nothing at all
if it ain't you baby
if i ain't got you baby
some people want diamond rings
some just want everything
but everything means nothing
if i ain't got you, yeah
[outro:]
if i ain't got you with me baby
so nothing in this whole wide world don't mean a thing
if i ain't got you with me baby
Langganan:
Postingan (Atom)