Selasa, 08 Mei 2012

tugas IBD “Manusia dan Keadilan”

Manusia dan Keadilan

Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil. Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilainilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati. Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntuk hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.
Berbagai Macam Keadilan

1. Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
2. Keadilan distributive
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
3. Keadilan komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat
Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya
yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hari nuraninya atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Kecurangan menyebabkan orang menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Bermacammacam sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada 4 aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban dan aspek teknik. Apabila keempat asepk tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum. Akan tetapi, apabila
manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan.
Pemulihan nama baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.
Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
OPINI
opini saya tentang manusia dan keadilan kali ini yaitu, manusia adalah makhluk sosial yang selalu mengingin kan keadilan. karena arti keadilan tersebut juga bagi saya adalah membagi sama rata antara hal a dan hal b.

tugas ibd “Manusia dan Pandangan Hidup”

Manusia dan pandangan hidup

Dalam kehidupan di dunia ini banyak sekali pandangan hidup manusia terhadap sesuatu hal yang di anggap berhubungan dengan adanya manusia di dunia ini contohnya seperti :
1. Pandangan hidup manusia pada zaman MANUSIA MONYET
Puluhan ribu tahun lalu, dimasa yang masih gelap gulita untuk ingatan kita sekarang, ketika mungkin kepulauan Indonesia masih besartu antara satu dengan lainnya, juga dengan Filipina dan benua Asia bahwa mungkin juga dengan Australia, menurut seorang ahli hiduplah disini, dekat desa Trinil, makhluk setengah hewan setengah manusia, yang oleh ilmu dinamakan pithecantropus erectus, manusia monyet. Di belahan bumi lain seperi di Tiongkok Utara, Afrika Selatan, serta Eropa Selatan dan Tengah ditemukan juga mahluk semacam itu.
Semenjak Charles Darwin, banyak sekali para ahli biologi (ilmu hayat) mendapatkan pandangan dan kesimpulan baru yang bertentangan dengan kepercayaan yang ditaati oleh agama selama ini tentang asal-usul dan hari akhir manusia di bumi kita yang kecil dan sama sekali tak berarti, kalau dibandingkan dengan besarnya pelbagai bintang diantara jutaan bintang di alam raya kita ini, di Universe kita ini.
2. Pandangan hidup manusia INDONESIA SEDERHANA
Kita kembali kepada alam kita di Indonesia tadi serta kembali mengamati penghuninya! Maka sekarang pun Indonesia masih dapat menyaksikan manusia pada tingkat yang serendah-rendahnya, yang berada di antara jenis hewan yang paling tinggi derajatnya, seperti orang utan, dengan pelbagai penduduk manusia di gunung serta hutan rimba raya Indonesia.
Orang Kubu yang masih berkeliaran di hutan rimba Sumatera Selatan, orang Semang di Malaya dan banyak orang Dayak di hutan Kalimantan seperti banyak orang Irian (Papua) masih bisa mendapatkan semua keperluan hidupnya daripada Alam sekitarnya. Mereka belum lagi terpaksa mengerahkan otaknya dan tenaga untuk bertanam, bertukang atau berdagang, untuk mendapatkan makanan dan pakaian yang diperlukannya atau untuk memperoleh senjata buat membela diri mereka terhadap hewan atau pun manusia buas yang lainnya. Buah dari pohon di berlainan tempat dan musim, binatang liar dan ikan yang terdapat di sana-sini cukup untuk menjamin hidup mereka. Kulit dan daun kayu cukup untuk menutupi bagian badan yang perlu mereka tutupi. Dahan, ranting, dan daun kayu yang dibikin seperti sarang, tinggi di atas pohon, cukup pula untuk memberi sekedar perlindungan terhadap hujan, panas dan bahaya musuh.
Gambaran di atas kurang lebih memang masih terdapat pada beberapa bagian di kepulauan Indonesia. Ini saya majukan untuk memberi penjelasan, betapa dekat dan eratnya hubungan alam dan manusia. Alam Indonesia yang kaya raya ini tidaklah mendorong manusianya membanting tulang serta memutar otak terus-menerus untuk mendapatkan makanan dan pakaian serta memperoleh senjata dan perlindungan untuk membela diri terhadap binatang buas atau alam yang kejam. Di mana keadaan alam belum lagi memaksa, maka tenaga, kepandaian dan pengetahuan manusia itu tinggal tetap seperti awalnya. Tetapi dimana keadaan alam dan masyarakatnya mengalami perubahan, disana tenaga dan otak penduduk Indonesia menunjukkan juga kesanggupan penuh terhadap segala macam kemajuan jasmani dan rohani yang dikehendaki oleh alam dan masyarakat yang berubah itu. Sungguh besar perbedaan alam jiwanya orang Indonesia asli, seperti orang Kubu, Semang, Dayak, dan Irian seperti tergambar di atas tadi dengan alam-jiwanya seorang Indonesia desa kota seperti tani, buruh, doker, insinyur, atau pengacara. Tetapi dengan tiada sangsi dan bukan pula dengan maksud memuji atau menghina, saya berani mengatakan bahwa orang Dayak atau Irian pun jika berada dalam keadaan sama akan sanggup belajar sampai mencapai apa yang bisa dicapai oleh suku bangsanya yang berada di desa dan kota. Perbedaan orang Indonesia berada dengan yang sederhana (primitive) bukanlah disebabkan oleh perbedaan sifat dan kesanggupan sebagai manusia, melainkan disebabkan oleh perbedaan sekitar dan keadaan. Dengan kata lain, disebabkan oleh kodrat pendorong.
Manusia dan pandangan hidup
Itu adalah pandangan hidup manusia terhadap sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manuisa. Karena Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu is menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa anti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menems, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk_yang disebut pandangan hidup.
Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya.Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka pandangan hidup itu disebut ideologi. Jika organisasi itu organisasi politik, ideologinya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu negara, ideologinya disebut ideologi negara.
Pandangan hidup pada dasamya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan. Cita – cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia malunur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepakeyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Manusia dan Tanggung jawab
Pengertian Tanggung jawab menurut Al-Qur’an
Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda.
Tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Yang kami maksud adalah perasaan nurani kita, hati kita, yang mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan sikap kita menuju hal positif. Nabi bersabda: “Mintalah petunjuk pada hati (nurani)mu.”
Dalam wacana keislaman, tanggung jawab adalah tanggung jawab personal. Seorang muslim tidak akan dibebani tanggung jawab orang lain. Allah berfirman: “Setiap jiwa adalah barang gadai bagi apa yang ia kerjakan.” Dan setiap pojok dari ruang kehidupan tidak akan lepas dari tanggung jawab. Kullukum râ’in wa kullukum mas’ûlun ‘an Ro‘iyyatih…..
Tanggung jawab bisa dikelompokkan dalam dua hal. Pertama, tanggung jawab individu terhadap dirinya pribadi. Dia harus bertanggung jawab terhadap akal(pikiran)nya, ilmu, raga, harta, waktu, dan kehidupannya secara umum. Rasulullah bersabda: “Bani Adam tidak akan lepas dari empat pertanyaan (pada hari kiamat nanti); Tentang umur, untuk apa ia habiskan; Tentang masa muda, bagaimana ia pergunakan; Tentang harta, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan; Tentang ilmu, untuk apa ia amalkan.”
Kedua, tanggung jawab manusia kepada orang lain dan lingkungan (sosial) di mana ia hidup. Kita ketahui bersama bahwa manusia adalah makhluq yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya untuk pengembangan dirinya. Dengan kata lain, ia mempunyai kewajiban-kewajiban moral terhadap lingkungan sosialnya. Kewajiban sangat erat kaitannya dengan eksistensi seseorang sebagai bagian dari masyarakat. Kita sadar bahwa kalau kita tidak melaksanakan tanggung jawab terhadap orang lain, tidak pantas bagi kita menuntut orang lain untuk bertanggung jawab pada kita. Kalau kita tidak berlaku adil pada orang lain, jangan harap orang lain akan berbuat adil pada kita.
Ada sebagian orang yang berkata bahwa kesalahan-kesalahan yang ia lakukan adalah takdir yang telah ditentukan Tuhan kepadanya. Dan dia tidak bisa menolaknya. Satu misal sejarah; suatu ketika di masa Umar bin Khattab, seorang pencuri tertangkap dan kemudian dibawa ke hadapan khalifah. Beliau bertanya: “Mengapa kamu mencuri?”, pencuri itu menjawab “Ini adalah takdir. Saya tidak bisa menolaknya.” Khalifah Umar kemudian menyuruh sahabat-sahabat untuk menjilidnya 30 kali. Para sahabat heran dan bertanya “Mengapa dijilid? bukankah itu menyalahi aturan?” Khlaifah menjawab “Karena ia telah berdusta kepada Allah.”
Seorang muslim tidak boleh melepas tangan (menghindar dari tanggung jawab) dengan beralasan bahwa kesalahan yang ia kerjakan adalah takdir yang ditentukan Allah kepadanya. Tanggung jawab tetap harus ditegakkan. Allah hanya menentukan suratan ulisan) tentang apa yang akan dikerjakan manusia berdasarkan keinginan mereka yang merdeka, tidak ada paksaan. Dari sinilah manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan. Mulai dari hal yang sangat kecil sampai yang paling besar. “Barang siap yang berbuat kebaikan, walau sebesar biji atom, dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang berbuat kejelekan, walau sebesar biji atom, maka ia akan melihatnya pula” (al Zalzalah 7-8).
Pengertian Tanggung jawab secara umum
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik, atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian dan pengirbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang di sengaja maupun tidak disengaja.Tanggung jawab juga berbuat berarti berbuat sebagai perwujudankesadaran akan kewajiban.Seseorang bertanggung jawab karena ada kesadaran ataupun keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain.Timbulnya tanggung jawab ituh karena manusia ituh hidup bermasyarakat dan hidupn dalam linkungan alam.Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lainnya dan terhadap alam sekitarnya,manusia menciptakan keseimbangan,keserasian,keselarasan,anatara sesama manusia dan lingkungan.
Tanggung jawab bersifat kodrati artinya sudah menkadi bagian hidupan manusia bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab.Dengan demikian tanggung jawab dapat di liahat dari dua sisi,yaitu dari sipihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik.Dari sisin pihak lain apabia si pembuat tidak mau bertanggung jawab pihak lain yang akan memeulihkan baik dengan cara idividual atapun dengancara kemasyarakatan
Apabila di kaji taanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus di pikul atau di penuhi sebagai akibat dari perbuatan yang berbuat,atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian,pengorbanan pihak lain.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya) manusia berasa bertanggung jawab bhwa ia menyadari akibat baik ataupun buruk perbuatannya,dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengorbanan atau pengbdian untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu di tempuh memlalui pendidikan,penyuluhan,keteladanan,dan takwa
terhadap Tuhan YME
Manusia ituh berjuang untuk memenuhi keperluannya sendiri atau keperluan pihak lain.Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi linkungan alam.Dalam usahanya itu juga manusia menyadari bahwa ada kekutan lain yang ikut menentukan yaitu kekusaan Tuhan.Oleh karena itu tanggung jawab harus di miliki dalam setiap manusia agar merka men yadari apa-apah yang harus di lakuakn harus mempertanggung jawabkan semua pah yang hrus di kerjakan.Dengan adanya Tanggung jawab hidup lebih berarti dan lebih mempunyai tujuan hidup
Macam-macam Tanggung Jawab
a. Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengambangkan kepribadian sebagai manusia prbadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan menganai dirinya sendiri menunrut sifat dasarnya manusia adalah mahluk bermoral namun manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi manusisa mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri angan angan sendiri sebagai perwujudan dari pendapat perasaan dan angan angan masnusia berbuat dan bertindak.
b. Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan Masyarakat kecil, keluarga terdiri dari suami-istri , ayah ibu dan anak anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkun nama baik keluarga tapi ketangung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan pendidikan dan kehidupan
c. Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusai tidak bisa hidup tanoa bantuan omanusia lain, sesua dengan kedudukannya sebagai mahluk social. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga mdengan demikian manusia disisni merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat lain agat dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkat lkau dan perbuatannya harus dipertaggung jawabkan kepada masyarakat.
d. Tanggung jawab kepada Bangsa/Negeri
Bahwa setiap manusia adalah warga Negara suatu Negara dalam berpikir, berbuat, bertindak, ertingkah laku manusia terikat oleh norma norma atau ukuran ukuran yang dibuat oleh Negara. Manusia tidak dapat berbuat semuanya sendiri bila perbuatan manusia itu salah maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
e. Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga dikatakan tindakan manusia tidak lpas daei hukuman hukuman Tuhan. Yang diruangkan dalam berbagai kitab suco melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika perungatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraikan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah perintah Tuhan. Berarti menginggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan terhadap Tuhan sebagai penciptanya. Bahkan untuk memenuhi tanggungjawabnya manusia harus berkorban.
Manusia dan Kegelisahan
selama hidupnya, manusia pasti pernah mengalami kegelisahan baik intensitasnya sering ataupun jarang, apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang membutuhkan tingkat kompetitifitas yang tinggi untuk hidup di dalamnya. kegelisahan sendiri berasal dari kata gelisah yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir,tidak senang tidak sabar, cemas sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. sedangkan kita dapat mengetahui tanda tanda bahwa seseorang mengalami ketegang adalah dari tingkah lakunya. tingkah laku yang bagaimana? umumnya seorang yang sedang tegang melakukan hal- hal yang tidak biasa dia lakukan seperti berjalan mondar-mandir, duduk termenung sambil memegang kepalanya dan berbagai hal lain yang mungkin dapat membingungkan orang yang melihatnya.
“Sigmon Freud”seorang ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu: kecemasan kenyataan, kcemasan neoritik dan kecemasan moril
A) kecemasan tentang kenyataan ( objektif )
kecemasan tentang kenyataan adalah suatu kenyataan yang pernah dialami oleh seseorang di masa lalu yang membuat orang tersebut menjadi shocked karenanya. sebagai contohnya, ketika seorang wanita mengalami kejadian penjambretan ketika ia sedang berjalan di suatu wilayah tertentu. ketika wanita tersebut diajak kembali ke tempat tersebut ia akan menjadi gelisah karena takut hal tersebut akan terulang lagi padanya.
B) Kecemasan Neoritis
kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, takut akan hal yang dibayangaknnya atau takut akan idnya sendiri sehingga menekan ego. kegelisahan ini akan membuat seseorang menjadi gelisah akan suatu hal yang buruk yang sedang di bayangkannya akan menjadi sebuah kenyataan. sebagai contohnya ayah dinar akan dipindahkan ke kota lain dan mereka sekeluarga harus pindah ke kota tersebut. kecemasan neoritis dinarpun memuncak ketika ayahnya membicarakan hal tersebut kepadanya. dinar membayangkan bahwa hidupnya di daerah tersebut akan tidak sebahagia di tempat yang ia tinggali sekarang karena kota baru tempat dimana ayahnya akan dipindahkan tersebut terletak di suatu daerah yang terpencil yang jauh dari tempat hiburan, dimana dinar sudah terbiasa untuk tinggal di kota besar yang banyak tempat hiburannya. hal tersebut merupakan sebuah contoh dari kecemasan Noritis.
C) kecemasan moril
kecemasan moril sendiri disebabkan oleh pribadi seseorang dimana tiap pribadi memiliki berbagai macam emosi seperti: iri, benci, dendam,dengki,marah,gelisah.rasa kurang,cinta.
rasa iri, benci,dendam merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, oleh karena itu alasan untuk iri,benci,dengki kurang dapat dipahami oleh orang lain.
sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji bahkan mengakibatkan manusia merasa khawatir, takut,cemas,gelisah dan putus asa.
PENYEBAB KEGELISAHAN
Apabila di kaji, sebab sebab orang gelisah adalah karena mereka takut kehilangan berbagai macam haknya seperti hak untuk hidup, hak milik, hak memperoleh perlindungan dan lain-lain.
contohnya:
beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar isu bahwa jakarta akan diguncang gempa dengan daya rusak yang setara dengan bom hiroshima pada waktu tertentu. ketika mereka mendengar berita tersebut, mereka langsung panik dan melakukan persiapan untuk mengamankan barang-barang miliknya atau membuat tenda di depan rumah dan menjudge bahwa berita tersebut benar adanya. padahal kalau kita telaah secara mendalam, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui kapan dan dimana gempa itu akan terjadi. hal tersebut dapat terjadi karena mereka takut kehilangan beberapa haknya seperti hak untuk hidup, ak untuk mendapat perlindungan, dan lain lain
CARA MENGATASI KEGELISAHAN
mengatasi kegelisahan ini peratam-tama harus mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu, yaitu kita harus bersikap tenang. dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga kesulitan dapat kita atasi. sedangkan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kegelisahan adalah dengan berserah diri kepada tuhan.
KETERASINGAN
keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu dalah dari kata dasar terasing. kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil. jadi kata keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. penyebab orang berada dalam posisi terasingkan adalah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat atau kekurangan yang ada pada diri seseorang , sehingga ia dapat atau sulit menyesuaikan diridalam masyarakat.
Pengertian Manusia dan kegelisahan dalam arti lain
Berarti berkaitan erat dengan diri pribadi manusia tersebut sehingga mengapa dia menjadi gelisah. Hal tersebut dicontohkan dengan seorang siswa S.M.U yang merasa takut dan gelisah ketika duduk bersebelahan dalam bus kota dengan seorang laki-laki berwajah sangar, berjerawat dan berambut gondrong serta memakai anting sebelah dan berpakaian lusuh dan tidak rapi. Dalam hal ini dia merasa gelisah karena tidak memahami status asli dari laki-laki tersebut apakah dia orang baik atau orang jahat.
Dalam masyarakat modern sendiri, individu sering mengalami kegelisahan atau yang sering juga disebut dengan stress dimana hal tersebut bisa saja terjadi bila individu merasa kekurangan dari segi materi dan selalu merasa gelisah dan berprasangka jangan-jangan materi tersebut sudah diambil oleh orang lain dan selalu merasa kekurangan.
Untuk mengatasi kegelisahan diperlukan nilai-nilai agama seperti bersikap Qana’ah (berpikir positif) sehingga ketidaktenangan dan ketidaksabaran alias kecemasannya dapat dikurangi dengan berdo’a kepadaTuhan serta berusaha keras untuk mengatasi hal yang membuatnya menjadi gelisah.
Keterasingan bisa jadi merupakan perilaku Sosiopatik yang tidak menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan tidak bisa hidup sendiri. Alienasi/keterasingan atau pengasingan diri bisa jadi dikarenakan dalam proses berdaptasinya terhadap situasi (retreatism) seseorang tersebut menolak tujuan-tujuan yang disetujui maupun cara-cara pencapaian tujuan itu dan menimbulkan sikap apatis. Hal tersebut dicontohkan oleh seorang ayah yang tidak mau menerima kesulitan dalam keluarganya sehingga menenangkan diri dengan minum-minum hingga mabuk dimana hal ini abnormal dan perilakunya tadi jelas-jelas melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai kepala kelurga. Selain itu perlu juga dilihat apakah seseorang itu mengalami keterasingan karena menurutnya masyarakat dimana ia berada sudah mengalami anomie.
Manusia dan Harapan
Harapan yang berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dengan dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam din manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, bcrkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan sebagainya. Seperti halnya orang yang menonton Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah mereka.
Dorongan kebutuhan hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bennacani-macant kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah maupun kemampuan berpikirnya.
Keamanan
Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan. Begitu lahir, dengan suara tangis, itu pertanda minta perlindungan. Setelah agak besar, setiap anak menangis dia akan diam setelah dipeluk oleh ibunya. Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa aman.
Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban. Karena itu tidak jarang anak-anak remaja mengatakan kepada ayah atau ibu. “Ibu ini kok menganggap Reny masih kecil raja, semua diatur!” Itu suatu pertanda bahwa anak itu telah tambah kesadaran akan hak dan kewajibannya.
Status
Setiap manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup. Dalam lagu “untuk apa” ada lirik yang berbunyi “aku ini anak siapa, mengapa aku ini dilahirkan”. Dan bagian lirik itu kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa setiap manusia yang lahir di bumi ini tentu akan bertanya tentang statusnya. Status keberadaannya. Status dalam keluarga, status dalam masyarakat, dan status dalam negara. Status itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia.
Perwujudan cita-cita
Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya atau profesinya. Pada saar itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.
Kebenaran
Kebenaran atau benar amat penting bagi manusia. Setiap orang mendambakannya, karena ia mempunyai anti khusus bagi hidupnya. la merupakan fokus dari segala pikiran, sikap dan perasaan.
opini
bagi saya, setiap manusia pasti memiliki pandangan hidup dengan jalan pikirannya masing-masing. karena setiap makhluk sosial adalah penilai sehingga akan timbul suatu pandangan terhadap hidup kita. kita sebagai manusia harus menyikapi pandangan hidup kita dengan positif, karena jalan kebahagiaan hidup kita bisa berasal dari sugesti yang kita ciptakan sendiri.
apabila kita membuat sugesti negatif kepada pandangan hidup kita, hidup kita pun akan terasa seperti menjadi beban.
maka berpikirlah positif, buat pandangan hidup kita seindah mungkin dan jangan pernah lupa beribadah dan berdoa kepada ALLAH subhanahuwata’ala karena sesungguhnya Tuhan lah yang menentukan takdir kehidupan kita meskipun pandangan hidup kita pun membantu mempengaruhi.

Senin, 12 Maret 2012

oasis - stand by me

Made a meal and threw it up on sunday
I've got a lot of things to learn
Said I would and I'll be leaving one day
Before my heart starts to burn

So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away

Times are hard when things have got no meaning
I've found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in
The things we find behind the door

So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away

Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah nobody knows the way it's gonna be

If your leaving will you take me with you
I'm tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home

So what's the matter with you
Sing me something new
Don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away

Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah nobody knows the way it's gonna be

The way it's gonna be, yeah
Maybe I can see, yeah
But don't you know the cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away

Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows the way it's gonna be
Stand by me
Nobody knows
Yeah God only knows the way it's gonna be

Train - hey soul sister

Heeey heeeey heeeeey

Your lipstick stays on the front lobe of my left side brains
I knew I wouldn't forget you
And so I went and let you blow my mind
Your sweet moving
The smell of you in every single dream I dream
I knew when we collided you're the one I have decided
Who's one of my kind

Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight

Heeey heeeey heeeey

Just in time, I'm so glad you have a one track mind like me
You gave my life direction
A game show love connection, we can't deny
I'm so obsessed
My heart is bound to beat right out my untrimmed chest
I believe in you, like a virgin, you're Madonna
And I'm always gonna wanna blow your mind

Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight

The way you can cut a rug
Watching you is the only drug I need
So gangster, I'm so thug
You're the only one I'm dreaming of
You see I can be myself now finally
In fact there's nothing I can't be
I want the world to see you being with me

Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo
The way you move ain't fair you know
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Hey soul sister, I don't wanna miss a single thing you do tonight
Heeey heeeey heeeeey (tonight)
Heeey heeeey heeeeey (tonight)

hells angels - forever angels

[1. Verse:]

You were born on judgement day

But you don't care and go your own way

Your living your life and you made your own laws

Fellowship forever, your freeing your souls



[Bridge:]

Riding with the brothers

Through the wind and the rain

You're proud of your color

and can feel no pain



[Chorus:]

Forever angel

Keep on riding

And fight for your rights

Forever angel

Roaring thunder

Through endless nights



[2. Verse:]

Sometimes it seems that you're dancing with the devil

And you recognize that the price for freedom is high

The brotherhood in your life is your highest call

Your the chosen ones, all for one and for all

Kamis, 09 Februari 2012

Tak Ada Yang Gila di Kota Ini

Liburan hampir tiba. Tiga orang petugas naik ke atas pick-up dan berkeliling kota, mencari orang-orang gila.
Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.
Hingga salah satu dari mereka keluar dengan gagasan mencari tempat pelacuran. Mereka belum pernah melakukan itu, dan membayangkan akan memiliki cerita hebat untuk teman-teman mereka di sekolah, tak satu pun menolak gagasan ini. Menyewa empat sepeda, dan bekeliling kota, mereka bertanya kepada anak-anak setempat yang nongkrong di perempatan jalan, dimana tempat pelacuran. Anak-anak sekolah ini tak tahu, pelacur terakhir di kota itu telah diarak dan babak-belur satu bulan sebelumnya oleh gerombolan orang-orang saleh.
“Kalau masih ada satu yang tersisa,” kata anak-anak setempat yang bergerombol tersebut, “Itu untuk kami. Maaf.”

Dalam keadaan putus asa, dengan berahi yang meledak-ledak, delapan anak sekolah itu menemukan seorang perempuan gila di satu tepi jembatan. Perempuan itu berumur sekitar tiga puluhan. Tak terlalu buruk untuk mereka. Didorong insting alami, mereka memandikan si orang gila dan membawanya ke losmen. Demikianlah hal itu bermula.
Tapi tak ada yang tahu bagaimana hal itu menjalar ke beberapa pelancong lain. Selama beberapa waktu, polisi memperoleh laporan tentang pelancong-pelancong yang menangkap perempuan-perempuan gila dan membawanya ke losmen. Awalnya mereka tak terlalu menggubris hal ini, sebab para pemuda setempat kadang-kadang melakukan kesintingan serupa itu.
Hal ini baru menjadi skandal ketika seorang pengkhotbah, di hari Lebaran, mengeluhkan hal tersebut. Bahwa para pelancong dari mana-mana, datang ke kota itu, untuk meniduri orang-orang gila. Pengkhotbah secara berapi-api akan membawa umatnya untuk membakar losmen-losmen, kecuali polisi segera membersihkan kota dari orang-orang gila. Tentu saja mereka tak mungkin melarang pelancong datang, sebab bahkan penghidupan pengkhotbah sendiri tersangkut-paut dengan hal ini: ia membuat dendeng ikan yang sebagian besar dibeli oleh pelancong untuk oleh-oleh.
Pembersihan orang-orang gila pun dilakukan. Tak hanya perempuan-perempuan gila, tapi juga lelaki-lelaki gila. Semakin banyak orang gila yang ditangkap, semakin tampak serius mereka bekerja. Pertama-tama, polisi yang melakukan ini. Belakangan, petugas-petugas inilah yang melakukannya.
Kota itu kecil saja, di tepi pantai selatan Jawa. Mereka tak memiliki rumah sakit jiwa, bahkan rumah perawatan sederhana sekalipun tak ada. Hanya ada pusat kesehatan masyarakat dan sebuah panti asuhan. Jadi beginilah yang akan dilakukan oleh ketiga petugas di atas pick-up itu. Mereka akan berkeliling kota. Jika mereka menemukan ada orang gila di pinggir jalan, mereka menangkapnya, dan melemparkannya ke atas pick-up.
Menjelang sore, barangkali mereka telah menangkap dua atau tiga orang gila, pick-up berjalan keluar kota. Ke arah utara, mereka melintasi hutan jati milik pemerintah, yang memisahkan kota mereka dengan kota terdekat. Di tengah hutan itulah, mereka berhenti. Dan di sana, orang-orang gila itu dilepas.
Pengemudi pick-up itu Marwan, dan ia yang akan selalu mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang gila tersebut: “Sampai jumpa di akhir musim liburan!”
***
Ketika musim liburan berakhir, Marwan dan kedua temannya naik pick-up kembali dan pergi ke pinggiran hutan jati tersebut. Mereka tak menemukan orang-orang gila itu di sana, tentu saja. Terakhir ada tiga orang perempuan dan dua orang lelaki gila. Setelah memeriksa jalanan yang membelah hutan, mereka turun dari pick-up dan meninggalkan kendaraan itu di pinggir jalan.
Marwan menenteng tali pramuka. Mereka tak pernah harus mengikat orang-orang gila tersebut, tapi tindakan berjaga-jaga selalu dilakukan. Kedua temannya, Darto dan Kartomo mengikuti. Darto menenteng tas punggung. Seperti di waktu-waktu sebelumnya, jika mereka tak menemukan orang-orang gila itu di tepi jalan, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Sejauh yang mereka tahu, orang-orang gila ini tak pernah pergi jauh.
Mereka memeriksa sungai kecil di bawah bukit. Entah kenapa, mereka selalu menemukan orang gila pertama di sana. Seperti binatang, orang gila rupanya tak ingin jauh dari air. Benarlah, mereka menemukan salah satu orang gila di sana. Seorang lelaki. Meringkuk di sebuah batu besar, dengan kaki terjuntai ke arus air.
Marwan menghampirinya, berdiri di tepi batu, dan menendang si orang gila. Ia menoleh ke arah teman-temannya dan berkata:
“Mati.”
Mereka kehilangan seorang gila. Kartomo merogoh saku, mengeluarkan telepon genggam. Ia bersiap memotret mayat itu. Marwan dan Darto berjongkok di samping mayat, sedikit bergaya. Dengan senyum mengembang. Kartomo memijit tombol telepon genggam, terdengar bunyi tanda ia selesai memotret.
Mayat itu belum bau, tapi tetap saja mereka meludah. Setelah Kartomo memotretnya beberapa kali lagi, mereka meneruskan perjalanan, mengikuti arus air. Meninggalkan mayat tersebut tanpa menyentuhnya lagi. Itu urusan polisi, kata mereka.
Orang gila kedua terdengar suaranya, dari arah puncak bukit. Tak jelas apa yang dilakukannya: menyanyi atau menggeram. Seorang perempuan. Darto yang pertama kali mendengar. Ia mendongak dan berbisik, “Dengar!” Setelah ketiganya sama mendengar, mereka bergegas menaiki lereng. Berpegangan pada pokok-pokok jati muda. Di atas bukit, ada gubuk tempat polisi hutan biasanya mengaso. Di sanalah perempuan gila itu berada. Menggeram-geram.
Tainya bertumpukan dimana-mana, di sekitar gubuk. Bau busuknya dengan segera menyergap hidung Marwan, Darto dan Kartomo.
“Anjing,” maki Darto. “Hai, Sinting, cepat pergi dari situ.”
Dengan susah-payah, mereka harus membawanya menuruni bukit dan membenamkannya ke sungai. Darto mengeluarkan gaun bersih dari tas pungguhnya, dan mengganti pakaian perempuan itu. Setelah memberinya lontong dan selembar roti tawar, perempuan gila itu akhirnya berjalan mengikuti mereka. Dan dalam perjalanan kembali naik ke bukit itulah, di setapak yang berbeda dengan sebelumnya, mereka menemukan orang gila ketiga.
Seorang lelaki, dengan badan berotot, dan tanpa pakaian. Yang mengagumkan adalah kemaluannya, terombang-ambing seirama langkah kakinya. Gelap, besar, di balik rimbun bulu kemaluan yang lengket di sana-sini. Ketiga petugas bahkan takjub dengan pemandangan tersebut. Bahkan meskipun mereka sudah mengetahui hal ini sebelumnya, sebab mereka sudah bertemu beberapa kali, rasa cemburu akan ukuran kemaluan itu tetap saja menjalar di kepala mereka.
Lelaki gila itu cengar-cengir begitu melihat ketiga petugas. Ia sudah mengenali mereka. Dengan lontong pula, ia tak perlu dibujuk untuk berjalan mengikuti ketiganya.
Mereka membawanya ke pick-up, menaikkannya. Kartomo akan bertugas menjaga kedua orang gila itu, sementara Darto dan Marwan akan mencari dua orang gila lainnya. Jika mereka beruntung, keduanya akan ditemukan sebelum senja datang. Marwan dan Darto cukup mengenal kedua perempuan sinting yang belum mereka tangkap. Keduanya sering berdua kemana-mana, dan memiliki kebiasaan berjalan lebih jauh dari orang-orang gila lainnya.
“Aku benci melihat ada orang gila mati,” gumam Darto sambil berjalan.
“Hmm,” kata Marwan mengikuti. “Cepat atau lambat akan ada orang gila baru di kota. Percayalah. Tuhan maha adil.”
Darto tertawa kecil. Ia tak mengatakan apa pun lagi, berjalan dengan roman lebih riang. Tiba-tiba ia mengalunkan sebaris lagu. Mereka bahkan tak ingat siapa yang menyanyikannya, dan apa judulnya, tapi Marwan buru-buru ikut bernyanyi. Mereka tampak senang, sebab pekerjaan mestinya membuat orang menjadi riang.
***
Musim liburan baru akan datang dua bulan lagi. Marwan berdiri di muka pintu bar, dengan papan besar bertuliskan “Anak di bawah 17 tahun dan berseragam dilarang masuk”. Sepasang pelancong Jepang berdiri di trotoar, di bawah lampu penerang jalan, tampaknya memeriksa satu halaman Lonely Planet. Dua orang gadis Finlandia duduk di kursi teras bar, dengan bir di meja, dan salah satunya asyik membaca Michael Crichton, sementara temannya mendengarkan musik dari iPod. Satu keluarga pelancong lokal, dari logatnya mereka datang dari Makassar, bersepeda lewat di depannya. Musim liburan masih lama, tapi satu-dua pelancong tetap bermunculan. Itu membuat Marwan boleh tersenyum senang. Demikian pula orang-orang di kota itu, tentu saja.
Dari arah pantai, berjalan seorang lelaki perlente. Ia tampak menengok ke kiri ke kanan, lalu membaca papan nama bar. Ia menoleh ke arah Marwan. Ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia menghampirinya.
“Bung Marwan?”
“Hm.”
Marwan menunjuk motor Honda 700 merah yang terparkir tak jauh darinya. Si lelaki perlente mengangguk dan mengikuti Marwan ke motor. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Marwan naik dan si lelaki duduk di belakangnya. Pergi meninggalkan bar.
Mereka berkeliling melalui lorong-lorong kecil. Melintasi toko buku loak Big Mushroom, melalui belakang dapur Hotel Rosebud, melintasi jalan menurun dan berbelok di depan sebuah butik kecil, entah bagaimana mereka melewati kembali Big Mushroom di sisi yang lain, deretan rumah penduduk, londri kiloan, sepetak kebun kelapa kecil, lalu masuk ke sebuah gang sempit yang di kiri-kanan berdiri orang-orang. Para penjaga. Orang-orang ini menghentikan Marwan. Memeriksa si lelaki perlente, dan membiarkan mereka lewat.
Di sanalah mereka kemudian berada: di sebuah gedung tua dengan tulisan: No Camera, No Cellphone, No Kids. Mereka masuk melalui pintu dengan dua penjaga, yang kembali memeriksa si perlente. Di dalam gedung, mereka menemukan diri berada di tengah lapangan bulutangkis yang telah lama dirombak menjadi lapangan futsal. Bangku-bangku penonton penuh orang, suara mereka menciptakan dengung monoton. Marwan menuntun si lelaki perlente melewati orang-orang, dan menemukan satu kursi. Si perlente duduk dan mengucapkan terima kasih.
“Nanti temui aku di pintu,” kata Marwan sebelum pergi.
Marwan berdiri dan bersandar di pintu, menunggu pertunjukan. Di tengah arena, keadaan gelap gulita. Ada seseorang bicara penuh semangat di pengeras suara. Kemudian diselingi dengan sebuah lagu. Tak berapa lama si pembawa acara bicara kembali.
Sunyi melanda para penonton. Lampu remang kemerahan menyala di tengah arena. Di sana tampak tiga tempat tidur, dengan tiga orang perempuan telanjang duduk gelisah di masing-masing tempat tidur. Yang menghebohkan penonton, tak lain orang keempat: seorang lelaki penuh otot, dengan kulit gelap, juga telanjang. Kemaluannya membuat mereka terpukau. Lelaki itu tersenyum riang melihat tiga perempuan telanjang. Kemaluannya perlahan-lahan terangkat, dan para penonton semakin bertanya-tanya berapa ukurannya.
“Sayang sekali, satu di antara mereka sudah mati. Polisi bahkan malas mengangkatnya dari sungai,” kata Marwan, kepada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia mengambil rokok dari saku bajunya, menawarkan, dan menyulutnya.
***
Ketika musim liburan tiba, Marwan dan kedua temannya naik kembali ke atas pick-up. Orang-orang gila itu berkeliaran di jalan-jalan kota, dan mereka harus membuangnya ke tengah hutan jati. Kadang-kadang ada penduduk yang mengeluh, “Kenapa mereka selalu kembali ke sini? Tak bisakah kita menembak mati saja mereka?”
Selama musim liburan, orang-orang gila tak lagi mereka butuhkan. Mereka dibuang sebab bisnis berjalan dengan baik. Sebab itu membuat orang-orang saleh merasa senang.
“Ada orang gila baru,” seru Darto.
Dari belakang kemudi, Marwan mendongak, dan bergumam. “Sayang sekali itu bukan bekas pacarku.”
Dan mereka tertawa sambil menggebrak-gebrak dashboard.

Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.
Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”

Petikan itu terdapat dalam esai “Deadlock pada Puisi Emosi-Semata”, yang pada dasarnya mencoba mengkritik kecenderungan generasi saya sendiri yang terlampau menekankan diri pada emosi, lupa bahwa itu hanya pendorong berpuisi. Asrul menunjukkan bahwa Angkatan 45 pada dasarnya mengulang kesalahan Pujangga Baru. Angkatan 45 terlalu sibuk dengan kebebasan, Pujangga Baru tersuntuk melulu dalam urusan keindahan.
Apa pula yang ia maksud dengan puisi gigantis itu? Bisakah kita menganggapnya sebagai kecenderungan puitik Asrul? Soal ini kita bisa periksa dalam kumpulan puisi Asrul satu-satunya yang pernah diterbitkan, Mantera (1975).
Mari kita ke Utara//Saudara, di sana bukan Utara.//Ah, kalau begitu anakku telah dibawa ke Selatan.